Festival Puisi Nasional salah satu agenda Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2007. Acaranya berupa Baca Puisi 30 Penyair Indonesia, 23-24 Agustus 2007, pkl. 19.30-22.00 WIB (malam), tempat Sasono Hinggil, Alun-alun Selatan, komplek Kraton Yogya.

Materi pertunjukan berupa pembacaan puisi oleh para penyair Indonesia terpilih, yang memiliki konsistensi dan pencapaian estetik. Para penyair diundang dari sejumlah kota di Indonesia, termasuk dari Yogyakarta. Sebelumnya, penyair diminta mengirimkan karya-karya mereka terutama yang bertema “keberagaman”.

Karya-karya tersebut akan diseleksi dan dijadikan bahan penerbitan (editor: Saut Situmorang dan Raudal Tanjung Banua) . Jika pada FKY 2005 kami sudah mengundang khusus penyair perempuan Indonesia, maka FKY 2007 ini–sebagai kelanjutannya- -kami sengaja mengundang yang sebaliknya. Berikut adalah para penyair yang diundang:

Peserta dari Yogya:

Faisal Kamandobat – Afrizal Malna – Bustan Basir Maras – Hasta Indriyana – T.S. Pinang – Iman Budhi Santoso – Joko Pinurbo – Hamdy Salad.

Peserta luar Yogya:

Aslan A. Abidin, Makasar – Agus Hernawan, Padang – Riki Dhamparan Putra, Denpasar – Jamal T. Suryanata, Banjarmasin – Irmansyah, Jakarta – Mardi Luhung, Gresik – Zen Hae, Jakarta – Gus tf, Payakumbuh – Iyut Fitra, Payakumbuh – Hasan Aspahani, Batam – Marhalim Zaini, Pakanbaru – Wowok Hesti Prabowo, Tangerang – Toto ST Radik, Banten – Tan Lioe Ie, Denpasar – Wayan Sunarta, Karangasem – Acep Zamzam Noor, Tasikmalaya – Ahda Imran, Bandung – Sindu Putra, Mataram – S. Yoga, Surabaya/Madura – Thompson HS, Medan – Sihar Ramses Simatupang, Jakarta – Badaruddin Emce, Cilacap.

datanglah berame-rame, boleh bawa selingkuhan bagi yang punya, he..he..

Salam manis

Y. Thendra BP

Senja Hilang

(Y. Thendra BP)

senja hilang di jiwa yang hilang
senja tak terbilang sayang.
sekawan burung melintas
tak membuat bekas
pada langit yang ditinggalkan.

sekali lagi, kita jumpai kenyataan ini:

rumah rumah
pohon pohon
jalan jalan
orang orang

bersalin ke dalam malam.

Jadilah Penulis Fiksi Top

Punya cerita segudang khayalan di kepala? Inilah saatnya Anda menuangkan dalam

bentuk tulisan fiksi dan kirimkan untuk ikut dalam Sayembara Mengarang Cerpen & Cerber femina 2007.

Syarat-Syarat Umum Sayembara Cerpen & Cerber:

• Peserta adalah Warga Negara Indonesia.

• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan menggunakan ejaan yang disempurnakan.

• Naskah harus asli, bukan terjemahan.

• Tema bebas, namun sesuai untuk majalah femina.

• Naskah belum pernah dipublikasikan di media massa cetak maupun elektronik, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.

• Peserta hanya boleh mengirimkan dua naskah terbaiknya.

• Hak untuk menerbitkan dalam bentuk buku dan menyiarkannya di media elektronik ada pada PT Gaya Favorit Press.

• Redaksi berhak mengganti judul dan menyunting isi.

• Naskah yang tidak menang, tetapi dianggap cukup baik, akan dimuat di edisi biasa. Penulis akan mendapat honor pemuatan yang sesuai.

• Keputusan juri mengikat. Tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.

• Karyawan Femina Group tidak diperkenankan mengikuti sayembara ini.

Syarat-Syarat Khusus Cerber:

• Diketik dengan komputer di kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi.

Font Arial ukuran 12.

• Panjang naskah antara 40 – 50 halaman.

• Dijilid dan dikirim sebanyak tiga rangkap, disertai 1 (satu) disket atau CD berisi naskah.

• Naskah dilampiri formulir asli, fotokopi KTP, dan sinopsis cerita.

• Pada amplop kiri atas tulis: Sayembara Mengarang Cerber femina 2007.

• Naskah ditunggu selambat-lambatnya 30 November 2007.

• Para pemenang akan diumumkan di femina, terbit pada akhir April 2008.

Syarat-Syarat Khusus Cerpen:

• Diketik dengan komputer di kertas HVS kuarto dengan jarak dua spasi. Font Arial ukuran 12.

• Panjang naskah 6 – 8 halaman, dan dikirim sebanyak tiga rangkap disertai 1 (satu) disket atau CD berisi naskah.

• Naskah dilampiri formulir asli dan fotokopi KTP.

• Pada amplop kiri atas tulis: Sayembara Mengarang Cerpen femina 2007.

• Naskah ditunggu selambat-lambatnya 14 September 2007.

• Para pemenang akan diumumkan di majalah femina, terbit November 2007.

• Karya pemenang utama akan dimuat di femina edisi tahunan 2008.

Hadiah Sayembara Cerber:

* Pemenang I: Rp10.000.000

* Pemenang II: Rp7.000.000

* Pemenang III: Rp5.000.000

* 3 Pemenang Penghargaan @ Rp3.000.000

Hadiah Sayembara Cerpen:

* Pemenang I: Rp4.000.000

* Pemenang II: Rp2.500.000

* Pemenang III: Rp2.000.000

* 3 Pemenang Penghargaan @ Rp1.500.000

Info lengkap dan sayembara sastra lainnya dapat dilihat di:
LINK SASTRA & INFO LOMBA
di

http://negeribadri. blogspot. com

Semoga ada yang beruntung

Catatan Laut #1

Hari ini aku serasa telah mencium bau garam. Mungkin angin telah
membawanya dengan tualang. Kadang pelan, kadang tergesa. Bau garam,
pasir, kepak helai sayap camar—dengan lengking suaranya, seakan hanya
berjarak satu inci dari telingaku. Kura-kura menyelinap dalam pekat
di antara jejak-jejak mata yang sayu. Seabad ia dapat hidup.
Menyelinap juga dalam pikiranku, berapa kenangan yang akan dia dapat
dalam seabad?

Laut dan sendiri. Rasanya terasa karib bagi beberapa orang. Namun
bagiku, ia tumbuh menjadi sebuah kerinduan. Kerinduan pasang surut.

Laut dan sunyi. Atau mungkin tepatnya, pantai sunyi. Ketika kabut
menutup rambut-rambut gelombang, pasir-pasir bangun, dan udara
sedikit demi sedikit memuai. Gelombang arus bertanya, mengucap sapa.
Sungguh, kerinduan yang seperti ini yang selalu timbul tenggelam.

Setiap kali aku melihat laut, melihat garam yang biru, sunyi nan
rindu ini terasa kian sesak. Segenggam udara seakan membuncah dalam
kantung tanpa katup. Sesak, kaswah, dan rapat. Kenangan-kenangan
melesat kabur menjadi episode, cuplikan, atau fragmen bisu. Seakan
aku tengah melaju di jalan raya tanpa satu pun kendaraan yang
melintas di sana. Melaju kencang dan setiap beberapa meter akan
terlihat marka-marka penunjuk jalan. Simbol-simbol atau mungkin papan-
papan kenangan. Tapi, aku selalu tak tahan melihatnya. Sesak!

Laut. Angin garam. Bebutir pasir warna putih itu kini melekat
menutupi bibirku. Angin debur memekak kenangan. Aku ingin menjumpamu
segera tapi endap rindu ini sungguh sesak. Sesak! “Laut, entah kapan
aku dapat menemuimu… “

Wangi laut. Sungguh terasa ia memanggil, menyeruku. “Datanglah!
Datanglah segera! Kau hanya dapat merindu dan tanpa pernah
menjumpaku”. Sungguh, kerinduan ini karib dan aku menikmatinya dengan
nyaman dan gelisah. Atau ketakutan yang sebenarnya hanya hidup dalam
bayanganku saja. Dalam duga.

Sungguh, kisahku di atas hanya sebatas fatamorgana. Catatan ini hanya
sebatas kepalsuanku saja tentang laut. Bahkan untuk menyentuh sebutir
pasir saja adalah kenyataan yang hidup dalam delusi. Kurang lebih
telah belasan tahun dari hari ini, aku belum pernah lagi mencium
wangi garam. Namun, secangkir teh hangat yang tidak terlalu manis
telah membuatku pulang kembali ke ruang singgah ini.

June 2007
(inspiration after watched LOGGERHEADS)

Puisi Terakhir Sebelum Menulis Puisi Baru Lagi Hari Ini Juga

                                                                : pro penyair indonesia

 

dari telur-telur kembar

kita ikan menelusur kembara

 

percintaan ini, membayangkan kolam keruh

penuh riak

memahat kilat sirip-sirip penasaran menerka

siapa pengantin nanti

 

mengendus aroma tanah basah ini,

betapa hidup telah jelajah

menanti mati di luncur terakhir

; ujung kail atau tersedak hidup itu sendiri

 

Serang-Banten 13 Juni 2007

 

 

 

apa yang kau ucap pada rintik hujan putusputus bila terdengar di senarai siang
padahal ia janji akan berhenti, jika pelangi ingin menyucikan diri
masih ada kabut legam
berarak ikuti jejak detak
penghujung hari, penujum malam
tatkala pagi buta bertingkah lugu
atau pekat merakit bisu
rintik hujan serupa berlian dari tepi jendela
bening
berkilau
membuatku berkaca
bukan pada kaca yang semakin dusta
kau berkata,
aku sakit ?
tidak sayang,
aku mati !

Menteng, 20 Juni 2007

http://www.indah- survyana. blogspot. com/

Kata

Selepas hujan, malam masih basah
Yang tercecer adalah huruf-huruf
Saat musim mencatat menjadi beku
Memuai di keriangat
Hari-hari benar-benar menjadi gelisah.

peluh dan takdir
tanah masih basah, tatah tumpah darah, tanah dan air
disengketa.
kata-kata masih terus memperjuangkan kebenaran.

Dikota, tempat semua kata dipenjara
Atau direkayasa.
Aku meronta-ronta, karena tak kuat berdusta.

Padang, Juni 2007

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.